Nama Nama Nabi [2]

Penyair Turki, Khaqani, berlantun dalam karyanya, Hilyat bahwa,

Pohon cemara yang berjalan itu datang dengan thugh Thaha
Berayun bagaikan panji panji dia datang.

[Thugh adalah panji panji kekaisaran yang dibuat dari ekor binatang yak]  Dan Amir Khusrau di India menggabungkan, tiga abad kemudian, kata Yasin dengan penafsiran huruf sin sebagai “gigi”.

Yasin telah menyebarkan mutiara dari mulutnya,
Thahanya telah menerima di dalam yakadu,

(yaitu, ia dikaitkan dalam cara yang misterius dengan tiga ayat terakhir dari surah 68, yang dibaca untuk mengusir mata yang jahat). Penggunaan nama-nama ini masih luas bahkan di sudut sudut terpencil di dunia Muslim, dan sebagaimana para qawwal di Khuldabad  [India] mengulang berkali-kali refrain Urdu nyanyian mereka.

Betapa Allah telah melingkupimu dalam Al Quran
dengan nama nama yang indah!
Kadang-kadang Dia menyapamu dengan Thaha, kadang-kadang
dengan Yasin. . .

Demikian pula penyair sezaman dari Gilgit menggunakan julukan julukan yang sama ini dalam lagu-lagu pujian mereka untuk Nabi dalam bahasa asli mereka, Syina.

M. Khaqani, Hilyat, h. 7. Dalam puisi kebaktian ‘Utsman Al-Mirghani, nama Thaha sangat sering digunakan; itu sering muncul dalam kaitannya dengan peranan Muhammad sebagai penengah, dan merupakan isi penting lagu lagu rakyat untuk menghormati Nabi; ia juga selanjutnya digabungkan dengan Yasin. Lihat Bannerth, “Leider agyptiseher meddahin:”

Engkau, Thaha, bagiku adalah kekasih,
Engkau, Thaha, penengahku

Sajak-sajak serupa terdapat dalam puisi rakyat Sindh. Lihat Baloch, Maulud, h. 151 dan berikutnya. Suatu ungkapan yang sangat indah mengenai kasih sayang seorang penyair rakyat untuk Thaha adalah berupa sebuah syair karya penyair Hausa, Ibrahim Niass,dikutip dalam Hiskett, “The Community of Grace,” h. 117:

Hatiku tidak merindukan gadis-gadis cantik —
Apalah gadis—gadis cantik itu? Anggaplah me-reka khayalan belaka di samping
Thaha (Muhammad), yang Te-percaya, yang suci.
Aku telah melupakan Laila dan Maila dan Tandami
Karena Thaha, yang dipercaya oleh Allah, cinta yang kukenal . . .

Orang bertanya-tanya apakah baris 332 dalam kazya Ibn Al Farid Ta’iyyah mengandung suatu perujukan tak langsung kepada nama Nabi, Thaha.
Bunyinya adalah:
Tak mengherankan bahwa aku menguasai semua yang hidup sebelumku,
Karena aku mempunyai pegangan paling kuat pada Thaha.

Di masa masa sesudahnya, huruf-huruf ha mim, yang terdapat pada awal surah 40-46, juga dianggap mengacu kepada Nabi, yang berbunyi Habibi Muhammad, “Kekasihku Muhammad.” Karena itu, mereka kadang kadang dikembangkan dalam kaligram kaligram dekoratif.
Disebutnya Muhammad sebagai habib, “kawan tercinta” Tuhan, juga telah mendnrong diciptakannya banyak nama julukan, seperti
Habibullah, “Kekasih Tuhan” atau

Hahib ur-Rahman, “Kekasih dari Yang Maha Pengasih,” yang tidak lain adalah padanan-padanan dari
nama Muhammad.

Suatu sumber yang sangat penting untuk pemuliaan kepada Nabi adalah surah 33:45, di mana Muhammad dijuluki sebagai basyir, “pem-bawa berita-berita baik,” dan

nadzir, “pemberi peringatan.

Kedua julukan itu seringkali digunakan sebagai nama orang, terutama di anak benua India (Basyir Ahmad, Nadzir Ahmad, dan semacam itu). Ayat Al Quran selanjutnya memuat penggambaran Muhammad sebagai sirajun munir, “lampu yang bersinar”.

Dan ini pun telah mengilhami timbulnya nama nama Muslim: Siraj ud-din, Siraj ud-daula, Siraj ul-Islam, yaitu Lampu Agama, Negara, dan Islam. Munir juga bisa dipakai secara tersendiri atau digabungkan (lagi-lagi di sini dengan Ahmad,
seperti Muniruddin Ahmad).

Nabi juga dinamakan mushthafa, “yang terpilih”, dan sedikit agak jarang mujtaba, “yang terpanggil”;” keduanya telah menjadi nama-nama kesayangan di kalangan kaum Muslim.

Sapaan-sapaan Ilahi kepada Nabi seperti kata-kata pembuka dari surah 74, Ya ayyuha’l mudatstsir, “waha.i engkau erang yang berselimut,” dan surah 73, Ya ayyuha’l-muzammil, “wahai engkau orang yang berselubung”, digunakan, terutama di India, sebagai nama pria.

Baljon, Modem Muslim Karan Intemretation, h. 99, menyebutkan cara tokoh modernis Pakistan, Ghulam Parvez, menjelaskan sapaan Ilahi kepada Nabi, Ya mudatstsir!
Dia mengambil kata itu dari datstsara, tadtsir, dalam arti khusus “mengatur sarang”, yang kemudian dia tafsirkan sebagai ” mengatur rumah agar rapi,” sehingga mudatstsir berarti, dalam pengertian modem, “pembaru dunia,” yang diperintah oleh Allah: Qum, “Bangkit,”
Yaitu, dia dipanggil agar mulai menyebarkan revolusi dunia.

Pada abad keempat belas, ahli sejarah, Safadi, menyusun sebuah syair yang agak panjang yang di dalamnya dia menyebut satu demi satu nama-nama Nabi, dan sejak awal mula kaum Muslim mendapati bahwa Muhammad pun memiliki tidak kurang dari sembilan puluh sembilan nama, asma’ al-syarifah,

Nama-nama Mulia, yang setara dengan sembilan puluh sembilan asma’ al-husna, Nama-nama Tuhan yang Paling Indah.

Fiseher, “Vergottlichung und Tabuisierung der Namen Muhammads,” h. 328. Beeker, Islamstudien, 2: 104, membahas tentang kecenderungan bagi “nama•nama Muhammad (dianggap) dalam Dala’il al-khairat untuk dapat disamakan dengan  nama-nama Allah”.Ketika Dala’il dan karya-karya yang berkaitan dengan itu digunakan di Afrika Timur.

Nama Nama Nabi SAW [1]

*Oleh Annemarie Schimmel

(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)

Merupakan suatu fakta yang dikenal luas dalam sejarah berbagai agama bahwa nama seseorang mempunyai suatu kekuatan yang sangat istimewa. Hal itu dikaitkan dengan orang yang diberi nama tersebut dengan cara yang misterius: mengenal nama seseorang berarti mengenal orang itu sendiri. ltulah sebabnya mengapa Allah “mengajarkan kepada Adam nama nama” (surah 2:30) untuk menjadikannya penguasa segala makhluk.

Untuk alasan yang sama, seorang kekasih tidak boleh mengungkapkan nama kekasihnya, sebab dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasia rahasia cintanya. Karena nama itu merupakan bagian, dan bahkan bagian yang sangat penting, dari sesuatu atau seseorang, ia membawa barakah, kekuatan berkah, dan jika seseorang itu mendapatkan suatu kekuatan khusus atau menempati suatu kedudukan yang sangat tinggi, namanya pun dapat mempengaruhi -dengan cara yang misterius – orang-orang yang diberi nama yang sama.
Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa kaum Muslim beranggapan bahwa nama Nabi mengandung suatu barakah yang sangat istimewa. Perasaan ini terungkap secara ringkas dalam suatu permohonan oleh seorang penyair kelana Anatolia, Yunus Emre, yang ditulis pada sekitar tahun 1300:

Tolonglah, berdoalah untuk kami di Hari Kiamat —
Namamu indah, engkau sendirl indah, Muhammad!
Kata-katamu diterima di dekat Allah, Tuhanku —
Namamu indah, engkau sendiri indah, Muhammad!

Ternyata pemujaan terhadap nama Muhammad ini telah dimulai sejak masa hidup Nabi, sebab Qadhi ‘Iyad mengutip sebuah sajak oleh Hassan ibn Tsabit, penyair Nabi, yang dengan mudah dapat menjadi dasar bagi semua spekulasi yang muncul sesudahnya mengenai nama Muhammad. Dalam baris baris ini, penyair Arab termasyhur itu menunjuk kepada hubungan antara nama Muhammad dan salah satu atribut Ilahi, Mahmud:

(Allah) mengambil untuknya, untuk menghormatinya, bagian dari Nama-Nya
Demikianlah Allah di atas Tahta dinamakan Mahmud, dan yang ini Muhammad

Yaitu, Muhammad adalah bentuk pasif-parsitip dari bentuk kedua kata kerja hamada, “memuji, menyanjung,” dan mengandung arti “(dia yang) patut dipuji, (orang yang) sering disanjung.” Mahmud adalah bentuk pasif partisip dari bentuk pertama dari akar kata kerja yang sama, “(dia yang) dipuji, kepada siapa pujian ditujukan”. Karena surah pertama dalam Al Quran dimulai dengan Alhamdu llllah, “Segala puji bagi Allah” maka Allah adalah “Yang patut dipuji,” yaitu Mahmud par excellence. Kaitan gramatikal yang sederhana antara atribut Ilahi dengan nama Nabi mendapat tekanan khusus dari para sufi, dan selanjut ya diuraikan dengan berbagai cara. Penyair Urdu abad kesembilan belas, Tapisy, melangkah demikian jauh dengan menyatakan dalam hubungan ini bahwa :


Ketika Pena menuliskan nama Tuhan,
Ia (juga) menuliskan nama sang Utusan Tuhan (Muhammad)

Pernyataan ini juga dapat ditafsirkan dengan cara berbeda, sebab kaum Muslim selalu memikirkan tentang fakta bahwa nama Nabi disebutkan dalam pernyataan iman secara langsung setelah nama Allah, La ilaha illa Allah, Muhammadun rasul Allah. Penggabungan ini telah menjadi sarana pengingat bagi kaum Muslim akan kedudukan Nabi yang unik, dan bukan hanya para ahli teologi saja yang memikirkan tentang kaitan misterius ini beserta implikasi implikasinya, tetapi para penyair pun tak henti-hentinya menyinggung hal tersebut, seperti misalnya yang dilakukan oleh Naziri pada awal abad ketujuh belas di India:

Dalam syahadat Dia telah mengucapkan nama Mushthafa sering dengan namaNya sendlri
Dan dengan demikian telah mewujudkan cita cita terakhir Adam

Penyalr itu mengambil gagasan ini sendiri beberapa halaman selanjutnya, dan menambahkan suatu rincian penting:

Allah telah membuat nama [Muhammad] dalam syahadat ber iringan dengan nama-Nya sendiri
Dan dengan menyebutkannya, telah memisahkan orang beriman dari orang Kristen

Baris-baris ini mengungkapkan kembalinya sang penyair kepada suatu pandangan yang lebih ortodoks setelah adanya toleransi keagamaan Akbar. Pengumpul hadis Nabi abad kesembilan, Al-Darlmi, menulis dalam prakata karyanya mengenai hadis, beberapa kata-kata yang diambil alih, enam abad kemudian, oleh ahli teologi Meslr, Jalaluddin Al Suyuthi, untuk menjelaskan misteri nama Muhammad:

Namanya adalah Muhammad dan Ahmad; umatnya adalah umat terpujl (hamd) dan semua gerak serta shalat umatnya dimulai dengan pujian (hamd). Dalam Kitab Abadi di rumah Allah ditullskan bahwa para Khalifahnya dan para Sahabatnya, dalam menulis Kitab Suci, hendaknya memulainya dengan pujian (surah 1:1). Dan di tangannya pada Hari Kebangkitan akan tergenggam panji panji pujian. Dan ketika kemudian dia bersujud dl hadapan Allah untuk menjadi penengah yang membela kita, dan sujudnya diterima, maka dia memuji muji Allah dan ketika dia bangkit, seluruh manusia yang berkumpul akan memuji-mujinya, balk kaum Muslim maupun orang-orang yang tidak beriman, yang pertama dan yang terakhir, dan semua makna dan cara untuk mengucapkan puji-pujian syukur terkumpul dan dihaturkan kepadanya.

Dengan kata lain, nama Muhammad sendiri telah menunjukkan semua pujian yang akan diterimanya dan akan diterima oleh para pengikutnya di dunia ini dan di akhirat nanti. Nama ini telah ada sejak awal masa dan akan selamanya digemakan kembali di surga.

Seperti diserukan 0leh Al-Sana’i:

Di atas Tahta lingkungan yang berputar, engkau lihat tempatnya telah tersedia; .
Di dasar Tahta Ilahi engkau melihat namanya.
(Sana’i, Diwan, h. 363.)

Sebuah buku pegangan sufi menguraikan tema ini:

Dan dengan nama itu Adam menamainya, dan melaluinya menjadi penengah dan shalawat diucapkan kepadanya dalam perkawinanya dengan Siti Hawa.
. . dan dengan nama itu ‘Isa akan menamainya di akhirat ketika dia menunjuknya untuk menjadi penengah; dan dengan nama itu jibril menyapanya dalam hadis mi‘raj. Dan dengan nama itu pula Ibrahim juga memanggilnya dalam hadis miraj. Dan Malaikat Pegunungan menyapanya dengan nama itu, dan dengan nama itu Malaikat Maut meratap ketika dia mencabut nyawanya, berseru: “Aduh! Muhammad, ah!”
Dan dengan nama itu dia memperkenalkan dirinya kepada Penjaga Surga, ketika dia meminta untuk dibukakan pintunya, dan pintu itu dibukakan untukny
a.

###

Selain itu, para sufi menemukan, dengan menggunakan metode isytiqaq kabir (pengambilan suatu makna tertentu dari setiap huruf dalam sebuah kata).
Bahwa namanya terdiri atas m dari majd, “kemenangan”, h dari rahmat, “rahmat”, m dari mulk, “kerajaan” dan d dari dawam, “keabadian”.

Nabi sendiri diyakini pernah berkata, “Tidakkah kalian bertanya tanya bagaimana Allah menghindarkan aku dari perlakuan kejam dan kutukan kaum Quraisy? Mereka menghinaku sebagai ’yang patut disalahkan’ (mudzammam) dan mengutukku sebagai orang yang patut disalahkan, sedangkan aku adalah orang yang patut dipuji (muhammad)”

Dalam sebuah hadis awal lainnya Nabi menyebutkan sebagai nama namanya, di samping Muhammad,
– Ahmad (berasal dari akar yang sama, hamd),
– al-mahi` “0rang yang melaluinya Tuhan menghapuskan (mahw) kekafiran;”
– al-hasyir, “0rang yang di kakinya umat manusia akan berkumpul pada Hari Kiamat;”
dan akhirnya al ‘aqib, “yang terakhir,” sebab tidak akan ada nabi lagi sesudahnya.

Di antara nama nama ini, Ahmad telah mendapatkan makna khusus dalam teologi Islam. Surah 61:5 menyatakan bahwa Allah akan “mengutus seorang nabi dengan nama Ahmad,” atau “yang namanya sangat patut dipuji.”
Kalimat ini dianggap oleh kaum Muslim sejak masa awal sebagai acuan kepada Paraclete yang kehadirannya telah diramalkan dalam Kitab Injil Yahya. Pembacaan paracletos sebagai periclletos yang dapat ditafsirkan sebagai “yang paling patut dipuji, “membuat penafsiran semacam itu menjadi mungkin, dan dengan demikian Ahmad secara umum diterima sebagai nama Nabi dalam Kitab Taurat dan Injil.

Rumi mengatakan dalam buku pertama dari Matsnawi-nya, bahwa beberapa orang Kristen kuno suka mencium nama Ahmad dalam Injil, dan diselamatkan dari hukuman mati dikarenakan rahmat yang terkandung dalam nama itu.

“Ahmad adalah juga nama surgawi Muhammad, di sekitarnya tumbuh sekumpulan literatur sufi, sebagai-
mana yang akan kita lihat sekarang. Sebagai nama “spiritual”-nya, nama itu sekaligus juga nama dari semua nabi (yang merupakan bagian dari cahaya primordialnya).

Najm Daya Razi menemukan suatu ponggambaran yang sangat aneh mengenai berbagai nama yang diberikan kepada Muhammad:
“Ketika telur dari keadaan Muhammad sebagai manusia belum dierami oleh si ayam ‘Abdullah, Tuhan menamakannya Ahmad (surah 61:5),” yang berarti bahwa Ahmad merupakan nama primordialnya; “tetapi ketika telur itu telah menetas dan tumbuh menjadi nabi dan rasul di bawah sayap Jibril,” dia dinamakan Muhammad (surah 3:144), dan ketika burung itu akhirnya mulai terbang “menuju qaba qawsayn, Dia menamakannya hamba-Nya (‘abduhu) (surah 53:10)”

Menurut Ibn lshaq, Muhammad pada masa mudanya dipanggil Al Amin, orang yang setia dan dapat dipercaya, karena kawan kawannya sangat terkesan oleh sifat sifatnya yang mulia dan dapat dipercaya. Hal ini merupakan penjelasan bagi banyaknya digunakan nama Amin sebagai nama yang disukai di negeri-negeri Islam.

Di samping nama-nama yang disebutkan oleh Nabi sendiri, kaum Muslim mengembangkan berbagai nama untuknya yang mereka katakan berasal dari Al-Quran atau hadis. Nama-nama yang diambil dari Al Quran tentu saja tetap menonjol. Di samping Muhammad dan Ahmad, kita mendapati:
– Abdullah, “hamba Tuhan,” atau ‘Abduhu, “hambaNya” (yang diambil dari surah 17:1 dan surah 53:10, kedua ayat itu mengacu kepada kedudukannya yang tinggi selama dalam perjalanannya ke langit).

Huruf-huruf misterius yang tidak ada kaitannya pada awal surah 20 dan surah 36, Thaha dan Yasin, juga dianggap sebagai nama nama Nabi.
Surah 20 awalnya berbunyi: “Thaha — tidakkah Kami turunkan Al-Quran kepadamu?”. Huruf-huruf Yasin pada awal surah 36 (yang dinamakan “Inti Al-Quran”) ditafsirkan sebagai Ya insan, “wahai manusia!” — yang lagi-lagi merupakan sapaan bagi Nabi. Oleh sebab itu Thaha dan Yasin menjadi nama-nama yang diterima di kalangan kaum Muslim, dan banyak penulis telah merenungkan makna maknanya yang tersembunyi, dengan membaca Thaha, misalnya, sebagai kependekan dari thahir, “mumi,” dan hadi, “penuntun.”